| By Widyawati,
on 18-10-2008 00:00
|
Views : 151  |
Favoured : 7 |
Moment kelahiran seorang bayi, memang sangat membahagiakan. Rasa bangga, bahagia, haru, bercampur menjadi satu, bagi sebuah keluarga, apalagi seorang ibu. Benar-benar betina...he... he... istilahnya. Harapannya pasti, sehat, cepat besar, jadi anak yang berbakti kepada orang tua, pintar, dan lain sebagainya. Yang bagus-baguslah, harapannya. Ya iyalah... Seperti kemarin, saya baru menengok teman, habis melahirkan anak pertamanya. Wah, seneng... banget, saya ikut seneng ... Seperti melihat saya saat punya bayi dulu... Untuk anak pertama, saya dulu, penginnya boleh cowok, boleh cewek. Pokoknya sehat. Tapi feeling untuk punya anak pertama cewek, besar banget. Masih hamil sepuluh minggu, udah seneng liat baju bayi cewek. Hamil dua puluh minggu, sudah beli sepasang anting bayi. Wah, gak ilok, kata orang Jawa. Pamali, istilahnya. Tapi, untungnya, setelah siangnya kami mengadakan selamatan tujuhbulanan, atauTingkeban, sore hari ketika kontrol dokter, kemungkinan anak kami perempuan. Semoga, ya...? Dan, saat melahirkan anak pertama, yang lahir bayi mungil kami ternyata cewek. Wah, senengnya...  Lain lagi teman saya yang satu lagi. Bulan Juni lalu melahirkan anak keduanya, cowok. Wah, senengnya minta ampun, habis anak pertamanya sudah cewek. Saya juga punya teman lagi, dari kecil kita main bareng, melahirkan anak ketiganya, dua anak terdahulu, anak pertama dan keduanya, cowok semua. bayi yang lahir... seorang bayi mungil cowok....lagi... lagi... cowok ! Tapi, ya tetep seneng... Memang kelahiran bayi sungguh membahagiakan, gemas melihatnya.
Ada juga kelahiran bayi dianggap sebagai pengganti kakanya yang lahir, tapi meninggal. Ini menurut orang Jawa. Ibu saya mengalaminya. Beliau pernah bercerita, di keluarga besar saya, kami lima bersaudara. Sebetulnya kami berenam. Ya, itu tadi, saya seharusnya mempunyai kakaklagi, persis diatas saya, anak nomer empat, kalau masih hidup, meninggal ketika umur setahun. Saat itu sepeninggal kakak say itu, ibu dan ayah saya sedii...hh banget. Terutama ibu saya, kata beliau, ketika itu saat PEMILU. Kakak saya sakit, karena pembantu yang biasa momong, sudah dua hari tidak masuk, minta berhenti. Mungkin kangen sekali. Sakit panas, sampai diopname di RKZ Malang. Ketika ibu saya akan mengambil suara, beliau meminta tolong adiknya, yaitu tante saya, untuk memabntu menggantikan menjaga Kakak saya sebentar di RKZ. Ketika akan beranjak meninggalkan kamar perawatan, ibu saya merasakan, bahwa kakak saya tidak mau ditinggal. Hati ibu saya merasakan, kalau kakak saya mau " pergi ". Dan itu benar terjadi... Begitu sampai di tempat pengambilan suara, ketika itu kami tinggal di Karangkates, ibu saya menerima kabar dari telepon, bahwa kakak baru meninggal. Makanya ibu saya sedih dan trauma dengan pembantu, sampai sekarang. Sering berliau menasehati kami, anak-anaknya, meskipun nanti kerja, untuk anaknya yang perempuan, tunggu anaknya sudah besar dulu, biar bisa ditinggal kerja. Takut pengalaman beliau terulang pada kami. Ada benarnya juga. Saya sendiri begitu punya anak pertama, saya tunggu umur setahun lebih, baru kerja lagi. Begitu kehamilan anak kedua, saya berhenti kerja dulu, baru anak saya yang kedua umur dua tahun, malah, saya tinggal kerja lagi. Oya, saat itu ibu saya tidak mengetahui bahwa beliau hamil...? Ya, itu saya dan ...adik kembar saya. Kami dilahirkan kembar. Jadi, salah satu dari kami adalah sebagai ganti anak yang meninggal. Alamak...!! Mendengar cerita beliau, saya merasa sedih, tapi agak bangga juga, ketika kami berdua dianggap sebagai pengganti kakak kami yang sudah tiada. Kata ibu saya juga, kelahiran bayi mungilnya, yang kembar dua , tidak diketahui ibu sampai dua minngu. Oalah... jaman dulu mana ada USG atau operasi caesar yang tinggal solder cara jahitnya. Yang ada menjahitnya dengan kawat....hii...! Ngeri menggambarkannya. Makanya saya takut banget menyakiti hati ibu saya. Nglahirin kami berdua saja,dengan nyawa, taruhannya.  Dari cerita diatas tadi, kayaknya setiap kelahiran anak, bisa memberikan rasa bahagia, bangga dan segala macam rasa senang di hati oarng tuanya. Anak juga bisa membawa rejeki. Konon kabarnya, lho. Juga setiap kelahiran bayi membuat rasa senang orang-orang di sekitarnya. Tul, nggak? Tul, nggak? |
|
|