Liburan Idul Fitri yang lalu, saya dan keluarga kecil, berekreasi ke Selecta Batu. Tadinya kami berencana ke Cangar Batu, tapi ketika kami masuk ke dalam, wah... sudah penuh dengan orang yang berendam dan berenang. Akhirnya rombongan kecil kami berpindah tempat, yah...yang sekiranya bisa untuk berenang . Tujuan terdekat adalah ke Selecta Batu. Akhirnya ke situlah kami pergi.
Tiba di pintu masuk Selecta, kami membeli bakso, sate kelinci dan sate ayam dahulu, sudah laper nih, perut... hawanya sejuk, makanya rasa lapar datang. Wah, anak-anak saya makan lahap banget..he..he... Padahal pagi tadi sudah sarapan. Agak mahal, sih, maklum tempat wisata. Untuk sepuluh tusuk sate kelinci harganya Rp 10.000; dan sate ayam Rp 7.500; Untuk baksonya , satu bola bakso Rp 2.000; Setelah menyelesaikan makan , kami segera masuk ke lokasi pemandian Selecta. Karena kami terdiri dari empat orang dengan satu mobil, dengan membayar Rp 45.000; kami sudah bisa masuk ke dalam.
Ternyata, begitu masuk ke dalam, kolam renang sudah penuh dengan orang yang berenang dan berendam di air. Tapi masih mendingan daripada di Cangar tadi. Kami berempat masih bisa main air di kolam, meski hanya sebentar. Habis dingin banget...beerrr.... Tak lama kami mandi untuk membilas badan, dengan membayar Rp 6.000; mandi air panas bisa kami nikmati. Saat itu saya belum tahu, kalo masih banyak tempat menarik lain di Selecta. Maklum, kalo sudah bawa anak-anak, maunya tempat renang aja,tujuannya...he...he...
Seringkali saya mengalami lupa, entah apa yang ada di pikiran saya saat itu, apa melamun, atau ngantuk....he..he... Dasar pikun kata orang-orang. Iya, kan...? Ya, memang kadangkala apa yang akan kita kerjakan , yang kita anggap berurutan, eh...sangking banyaknya, malah ada yang kelupaan, malah-malah kadang kita kayak linglung, lho, aku kesini mau ngapain, ya? aduh...lupa lagi, he..he...
Pengalaman lup aini juga pernah saya dan adik saya alamin. Ceritanya kami berdua pergi ke Toko Buku Toga Mas di Kota Malang. Saya memerlukan beberapa alat tulis dan sebuah tabloid wanita. Sedangkan adik saya memerlukan beberapa buku tulis, literatur, dan kertas ukuran folio. Setelah kami memilih-milih, akhirnya kami mendapatkan semua barang yang memang kami butuhkan. Lalu menuju kasir untuk membayar semua barang kebutuhan kami ini. Ketika akan ke tempat parkir, kami kelupaan sesuatu, adik saya perlu ke lantai 2 untuk membeli buku literatur, kami bergegas ke lantai 2, tak lupa kami menitipkan barang yang sudah terbayar tadi, ke tempat penitipan barang. Nggak lama, sih, untung bukunya ada, adik sayapun membayar buku tersebut ke kasir. Kami segera ke tempat parkir. Perut kami sudah lapar untuk makan bakso favorit kami, Bakso Presiden Pulosari, nyam...nyam...Kami segera ke sana.
Apa kabar semuanya? Wah, sudah lama saya tidak menulis cerita dan pengalaman lucu,ya? Habis, dua anak saya pada libur panjang sekolah, liburan Idul Fitri. Akhirnya saya yang biasanya ngerjain kerjaan rumah pagi hari, karena sama nunggu waktu mereka berdua pulang sekolah, ngerjainnya jadi sore. Maklum, anak saya krasan banget di rumah, gimana nggak, selain nonton VCD kartun kesayangan, mereka juga main game, belum badminton dan bersepedanya. Itulah kegiatan favorit mereka di rumah, selama liburan ini. Kalau diajak keluar atau pergi, mintanya pasti satu, ... berenang.... Maklum, sudah mulai bisa berenang.
Memang, waktu liburan Idul Fitri ini, hampir semua sekolah negeri di Malang ataupun di Mojokerto, yang saya tahu, bebarengan. Seperti nenek mereka yang seorang guru SD negri, sama, tanggal 24 September awal liburannya. Yang heboh ya anak, ya nenek. Yah, patut diketahui, mereka berdua merupakan cucu pertama cewek dan cowok sang nenek...he..he... Anak saya dua-duany jadi kolokan / manja kepada sang nenek, mbah utinya mereka panggil.
Jadi ada saja alasan supaya kami ini mudik ke Mojokerto. Yah, moment liburan Idul Fitri memang dari masa - ke masa merupakan saat yang indah dan berkesan, itu.. untuk melepas kangen dengan keluarga besar , dan yang pasti melepaskan sejenak rutinitas kehidupan yang monoton selama satu tahun. Istilahnya cuti tahunan, gitu, loh...he..he..
Jaman sekarang ini, tak jarang saya menjumpai remaja-remaja sesusia 15 tahun keatas, sekolah SMA-lah, yang cewek maupun cowok, sudah pandai berdandan dan bergaya, pokoknya mereka sudah pada fashionable. Entah karena anak sekarang gizinya bagus, atau karena pergeseran nilai dan norma hidup dari para orang tua mereka, yang penginnya instant dan praktis, ngkalee.. he..he...para remaja cewek dan cowok kita bisa dan mampu menyerap gaya hidup yang mengglobal ini, ya...Seperti apa, yuk, kita bagi cerita...
Memang, sih, dibandingkan dengan saya dulu, wah...jauu...hh...Coba kita liat, hampir semuanya para remaja sudah bawa HP, meski nggak semua, sih ( wong anak SD aja, sudah banyak yang bawa HP, kok). Yang ceweknya cantik-cantik dan gaya, gak ada yang ndesit ( lugu gitu...). Yang cowoknya juga gitu, ada yang seneng gaya Retro, ngerock, maskulin, sportif, dan lain sejenisnya, jarang yang kedombrangan ( mbambes istilah teman saya ), pokok mereka para cowok nggak kalah gaya abis dengan para ceweknya. Dan gaya -gaya apa saja, mau model jadul atau sekarang, sah-sah aja, tuh...
Sejak awal Bulan Ramadhan ini, semakin banyak saja saya jumpai pengemis di jalan-jalan. Sepertinya momen ini sudah dijadikan tradisi oleh mereka untuk mengais rejeki. Ada yang menyamar menjadi orang cacat, ada pula yang memang orang cacat. Yang saya tidak tega kalau melihat para pengemis yang membawa anak-anak batita maupun bayi. Entah itu anaknya beneran, ataupun bukan. Mana panas disiang yang terik mereka beroperasi di lampu merah. Wah, miris saya melihatnya. Mereka berbaur dengan anak jalanan_ anjal.
Alangkah lebih baiknya kalo mereka bekerja saja, untuk mencari rejeki yang halal, ya melelui jalan lain, seperti jual asongan, menjadi buruh cuci dari rumah ke rumah, menjadi pemulung , pencari puntung rokok, asal tidak mencuri. Kan jadinya pemandangan kota kumuh. Belum lagi banyak penjual kaki lima menggelar dagangan di tengah trotoar, tapi daripada ngemis mending kaki lima, cuma pengaturannya aja yang harus ditertibkan. Jadi mirip pasar senggol, he..he.. Tapi memang jangan tanya kalau di pasar, wah...
Tapi bagaimana lagi, ya, kalau sudah menjadi tradisi, yah...apa mau dikata.....