Sudah saya biasakan, pada kedua anak saya, untuk bertanggungjawab terhadap tugasnya. Yah... hal-hal kecil saja. Membantu pekerjaan rumah, misalnya. Kakaknaya bagian sapu-sapu dan jemur cucian baju, termasuk mengentas jemuran. Untuk adik, mencuci piring dan gelas. Juga kebagian tugas membuka gembok pagar rumah. Eits... adik juga kebagian tugas memijati badan saya kalau capek. Enak pijatannya, mantep... laki-laki kali, lebih kuat mijitnya ... he... he...
Untuk belajarnya, memang untuk si adik yang baru masuk SD, beda banget kakak dan adik. Kakak lebih tanggung jawab dan cepet ngerti tugas-tugasnya. Karena semasa kecil sering saya dan suami suruh-suruh, lagian sering saya suruh momong si adik, dia cepet bisa. Lain adik, baru sekarang-sekarang ini saya suruh-suruh. Biar pinter dan tanggung jawab. Untungnya mau-mau saja ... he... he... Memang untuk belajar, adik masih dibimbing. Juga untuk ngerjain PR-nya. Adaptasi dulu, istilahnya... Untuk kakak, PR sudah bisa ngerjakan sendiri sebisanya, baru saya koreksi lagi. Untuk belajar, sudah bisa baca sendiri dan menghafalkan, tinggal saya tebak-tebakin lagi... kalo nggak gini...nanti malah males belajarnya...
Juga untuk kebiasaan pulang sekolah, saya suruh mereka berdua ganti baju dan segera makan. Baru menata buku untuk besok harinya. Kalau ada PR segera dikerjakan. Dengan kebiasaan bagi waktu ini, setelah rutinitas tadi dikerjakan, mereka tahu, kok, setelah itu boleh santai... mau main sepeda, main game, main dengan teman-teman di komplek, ataupun nonton TV. Kan tugasnya sudah selesai.
Film Laskar Pelangi benar-benar sudah booming, terutama di kalangan anak-anak sekolahan. Anak saya yang kelas tiga SD saja, sekolahnya mengadakan pembelajaran luar kelas, dengan nonton bareng Film Laskar Pelangi di Bioskop Matos Malang, sudah semangat banget bercerita. Itu tentang bayangan dia nanti nonton bersama teman-teman satu sekolah dan guru-gurunya. Ya... padahal kami sekeluarga sudah menontonnya, di Bioskop Mandala, tiga minggu yang lalu. Adiknya ikut-ikutan mau ikutan nonton... lagi... he...he...he...
Sepertinya, Film Laskar Pelangi ini, sudah menjadi tontonan wajib anak-anak usia SD. Menurut saya, film ini memang penuh inspirasi, dimana anak-anak sekolah dalam film itu, semangat belajarnya tinggi, meskipun belajar dengan keadaan dan situasi yang serba minim. Sungguh menginspirasi anak-anak. Saya aja, sebagai orang tua, mengangkat dua jempol tangan saya, untuk film ini. Kedua anak saya, nggak bosan-bosannya membicarakan film ini, sampai sekarang... Apalagi sang kakak , besok Kamis akan menonton lagi, dengan teman-teman sekolahnya...he... he...
Kalau kita lihat beritanya di televisi, ada acara dari salah satu stasiun televisi swasta, mengajak anak-anak jalanan untuk nonton bareng, dan gratis tentunya. Setelah selesai menonton, si anak tersebut diwawancarai, dan pernyatanan anak tadi sungguh membuat dia semangat lagi untuk kembali ke sekolah. Semoga...
Puri Cempaka Putih adalah perumahan yang terletak di kota malang jawa timur, tepatnya di desa tlogowaru kecamatan kedungkandang. Lokasi perumahan puri cempaka putih yang dulu sempat di juluki perumahan 'mewah' (mempet sawah.. ) karena memang lokasi perumahan di kelilingi oleh sawah yang masih 'aktif' dengan tanaman tebu yang terhampar luas... itu dulu... tapi dengan pekembangan kota malang yang cukup pesat sekarang puri cempaka putih nggak lagi di juluki perumahan 'mewah' karena memang bangunan perumahan di puri cempaka putih sudah mulai padat dan perkembangan pembangunan di sekitar komplek puri cempaka putih sudah mulai berkembang.
Saya jadi teringat 6 tahun yang lalu ketika pertama kali saya membeli rumah di puri cempaka putih, jalanan masih sepi maksudnya jalan raya menuju ke komplek puri cempaka putih masih spi dan belum adanya penerangan jalan dan sering kali terjadi tindak kejahatan di jalan menuju puri cempaka putih.... sereeem...
Dulu kalau malem, jarang atau tepatnya nggak ada orang jualan makanan yang keliling di perumahan, nggak seperi sekarang, dari mulai pagi sampai malam ada aja orang jualan makan keliling..., susah dulu... kalau malem lapar jadi masak sendiri, seperti di kos-kosan dulu, apalagi kalau nggak masak mie instan....
Sehari-hari, kita dituntut untuk mengatur jadual atau waktu yang cuma 24 jam ini, untuk bekerja, mengurus keluarga kecil kita, bersosialisai dengan tetangga ataupun teman kerja, belajar dengan anak, dan ... berduaan dengan pasangan. Ini sangat perlu kita atur waktunya, sedemikian rupa. Saya aja yang dirumah, tidak kerja kantor lagi, kadangkala merasa stres, karena rutin mengurus rumah, anak, ngatur keuangan untuk belanja....
Tapi, ajakan anak-anaklah yang membuat saya tertarik, karena mereka, selain senang berenang, badminton, jalan-jalan sekitar komplek, juga selalu mengajak saya... bersepeda. Yang ini... baru... Soalnya boro-boro mau olah raga, jalan-jalan aja sudah enak, kok, menurut saya... kemaren-kemaren, tapi... sekarang ada yang lebih enak lagi... itu naik sepeda pancal. Dengan bersepeda, selain keringat keluar, angin sepoi-sepoi yang menerpa wajah, serasa mendinginkan pikiran yang lagi panas, he... he... Fresh banget. Eh... jangan ngremehin... masa kecil saya tomboy banget. Tadi sore aja, saya bersepeda keliling komplek, nggak tahu, darimana datangnya pikiran jail , saya ngebut, ninggalin anak saya jauh dibelakang. Dengan terengah-engah, anak saya mencoba menyusul saya. Habisnya, saya kalau bersepeda, nggak bisa pelan, ngebut terus maunya. Ketika tersusul, saya sudah pelan bersepedanya, anak saya protes, " Bun, kok ngebut,see..?" he... he... Eh... ide jail sekali lagi datang, saya coba lepas tangan dari stang, ealah... anak saya teriak-teriak, takut bundanya jatuh....ha... ha... Tapi akhirnya mereka mengakui kalau bundanya... gila banget naik sepedanya!! ... he... he... Hee...mm...belum, nanti kalau ada sepeda BMX, bunda standing, lho... jangan teriak-teriak lagi...hi... hi...
Moment kelahiran seorang bayi, memang sangat membahagiakan. Rasa bangga, bahagia, haru, bercampur menjadi satu, bagi sebuah keluarga, apalagi seorang ibu. Benar-benar betina...he... he... istilahnya. Harapannya pasti, sehat, cepat besar, jadi anak yang berbakti kepada orang tua, pintar, dan lain sebagainya. Yang bagus-baguslah, harapannya. Ya iyalah...
Seperti kemarin, saya baru menengok teman, habis melahirkan anak pertamanya. Wah, seneng... banget, saya ikut seneng ... Seperti melihat saya saat punya bayi dulu... Untuk anak pertama, saya dulu, penginnya boleh cowok, boleh cewek. Pokoknya sehat. Tapi feeling untuk punya anak pertama cewek, besar banget. Masih hamil sepuluh minggu, udah seneng liat baju bayi cewek. Hamil dua puluh minggu, sudah beli sepasang anting bayi. Wah, gak ilok, kata orang Jawa. Pamali, istilahnya. Tapi, untungnya, setelah siangnya kami mengadakan selamatan tujuhbulanan, atauTingkeban, sore hari ketika kontrol dokter, kemungkinan anak kami perempuan. Semoga, ya...? Dan, saat melahirkan anak pertama, yang lahir bayi mungil kami ternyata cewek. Wah, senengnya...
Lain lagi teman saya yang satu lagi. Bulan Juni lalu melahirkan anak keduanya, cowok. Wah, senengnya minta ampun, habis anak pertamanya sudah cewek. Saya juga punya teman lagi, dari kecil kita main bareng, melahirkan anak ketiganya, dua anak terdahulu, anak pertama dan keduanya, cowok semua. bayi yang lahir... seorang bayi mungil cowok....lagi... lagi... cowok ! Tapi, ya tetep seneng... Memang kelahiran bayi sungguh membahagiakan, gemas melihatnya.